Translate

Rabu, 19 Juni 2013

PENINGGALAN ARKEOLOGI KESULTANAN TERNATE



A.    Islamisasi Maluku Utara
Islam mulai masuk wilayah nusantara sejak abad ke-tujuh masehi dimana disaat itu merupakan fase awal dari penyebaran Islam di wilayah nusantara. Namun permasalahan ini  merupakan suatu hal yang menjadi perdebatan yang cukup menambah wawasan sejarah saat ini. Menurut Uka Tjandrasasmita, terdapat dua perbedaan pendapat tentang penyebaran Islam di dunia melayu, teori yang ada biasa dibagi kedalam dua kategori.[1]  Hal ini didukung oleh pendapapat Hamka, JC. Van Luer, Syed Naguran Al Attas, Dsb., sedang pendapat kedua didukung oleh Snouck Hurgronje, H. Agus Salim Dan lainnya.
Hal ini tidak tanpa alasan anmun hal ini didasari atas pertimbangan atas ditemukannya Berita China yang menyebutkan di daerah Ta-shih (Wialayah pantai barat Sumatra) telah ada ada pemukiman Arab Muslim.
Melihat keadaan geografis wilayah nusantara terlebih kearah daerah timur Nusantara, Maluku merupakan daerah yang amat jauh. Namun daerah ini merupakan daerah pengahasil rempah yang menjadi komoditas utama perdagangan di eranya.
Dengan adanya komoditas tersebut hubungan sosialisasi antar pedagangan membuat kontak denga dunia Islam di Barat Kerpulauan Nusanatara, kepastian untuk penyebaran Islam pertama kali memang simpang siur namun dapat dipastikan kerajaan Islam terbentuk di Maluku dimulai pada pertengahan abad ke-15.
Dimulai dengan pengenalan dengan mubaligh kemudian menarik hati  Raja kerajaan Gapi (Ternate)  sehingga mendorong raja untuk mendalami Islam hingga ke tanah Jawa Giri/ Gresik. Setelah itu barulah  raja mengislamkan semua kerluarga di lingkungan istana dan rakyatmya. Hal ini terjadi diwilayah Maluku lainya seperti : Tidore, Jailolo dan Bacan.
B.     Kesultanan Ternate
Sejarah singkat, pemerintatahan Maluku Utara dimulai tahun 1257, Pembentukan kerajaan Moloku dengan Baad Mansur Malomo sebagai Penguasa.[2] kekuasan raja-raja Ternate, membauat Raja-raja tersebut dijuluki sebagai raja Cengkih, kedatangan Portugis menimbulkan persatuan Kerajaan-kerajaan Maluku yang disebut Moloku Rie Raha pada 1530 untuk melawan Portusgis.
Kolano Marhum (1465-1486), penguasa Ternate ke-18 adalah raja pertama yang diketahui memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500). Beberapa langkah yang diambil Sultan Zainal Abidin adalah meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan Sultan, Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan, syariat Islam diberlakukan, membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama. Langkah-langkahnya ini kemudian diikuti kerajaan lain di Maluku secara total, hampir tanpa perubahan. Ia juga mendirikan madrasah yang pertama di Ternate. Sultan Zainal Abidin pernah memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada Sunan Giri di pulau Jawa, disana beliau dikenal sebagai "Sultan Bualawa" (Sultan Cengkih).[3]
Hal ini berlanjut hingga kedatangan Portugis ke-wilayah ini, pada abad ke-16, namun keberadaan islam yang lebih awal telah memberikan kekuatan tersendiri bagi Muslim Maluku.
Keberadaan Ternate sebagai pusat kekauatan utama di kepulauan rempah-rempah, merupakan suatu hasil dari gabungan /aliansi antara empat kerakaan yaitu : Ternate, Tidore , jailolo dan Bacan. Aliani amat kaut sehingga berhasil memilki wilayah kekuasaan diwilayah timur indonesia seperti : Sulawesi atara, Kepulawan selatan Fhilipina, dan Irianjaya.
Namun demikian terjadi rivalitas /persaingan antara kedua kerajaan antara Ternate dan Tidore, dalam yang pada perkembangannya kedua kekuatan tersebut masing-masing di sokong oleh kekuatan Asing Seperti Ternate dengan Portugis dan Tidore dengan Sepanyol. Pada tahun 1529 Ternate berhasil mengalahkan Tidore namun kemenangan ini memulai krisis Ternate.
 Akibat Agretifitas Portugis, Ternate membangun kekuatan untuk melawan  Portugis tapi berakhir dengan terbunuhnya Sultan Khairun di Loji Portugis.[4] Kemudian pengganti sultan Khairun, Sultan Baabullah Portugis berhasil di usir. Namun kemenangan tersebut bukan menjadi kemenangan bagi kerajaan Ternate, sebab pada abad -16 Ternate menjadi wilayah taklukan VOC.
C.    Peinggalan Arkeologi Kesultanan Ternate
Menurut Annals, kerajaan tumbuh berjaya dan mundur, hal ini juaga terjadi pada Kerajaan Ternate, kemajuan serta pengaruh masalalu meninggalakan pengingalan yang berarti bagi kerajaan tersebut. Hubungan politik, perperangan serta perdagangan meninggalkan tempat-tempat serta bukti  sejarah tentang kenenaran akan keberadaan suatu pristiwa ataupun suatu benda.
Kerajaan Ternatepun meninggalkan berbagaimacam peninggalan penting sejak ia berdiri masa kemasan hingga sekarang, Seperti :
1.   Komplek Istana/ Masjid dan Makam
Istana kesultanan Ternate bergaya abad ke-19 berlantai dua menghadap kea rah laut, dikelilingi perbentengan, terletak satu komplek denagn masjid Jami Ternate.[5] Terletak di wilayah administrative Soasiu, Keluerahan Letter C, Kodya Ternante, pemugaran telah dilaksanakan sebanyak dua kali antar 1978-1982 oleh Mendikbud yang dipimpin oleh DR. Daoed Joesoef. Komplek ini diajadikan sebuah Museum Kesultanan Ternate.
Masjid Jami Kesultanan Ternate berasda dalam Komplek Kesultanan Ternate berdenah Persegi, menghadap ketimur didirikan oleh Sultan Hamzah , memiliki atap bersusun tujuh,dengan luas masjid 22.40 X 39.30m denagan tinggi keseluruhan 21.74 m, masjid memiliki 4 tiang utama dan 12 tiang penyokong, masjid dikelilingi pagat tembok dengan pintu gapura beratap dua susun yang berfungsi sebagi menara adzan
Terletak di belakang komplek makam terdapat pemakaman yang juga dikelilingi tembok, luas dari komplek makam utara 65m ,timur 30 m, selatan 65m dan barat 21 m. terdapat makam sultan-sultan yang menjabat anatar abad 18-20 dianataranya :  Sultan Siraju Muluk Iskandar sampai dengan Sultan Muhammad Uthman. Makam disini dapat dibedakan anataradua yaitu berhias dan tidak berhias, ragam hias umumnya bercorak floralistik, berpola jualianan/ susuna daun-daunan khas Ternate, sering daianggap pola hias Polinesia. makam Sultan Muhammad Uthman (W. 1212 H/ 1728 M), Sultan Amiruddin Iskandar (W. 1276 H/1850 M) Sultan Muhammad Ali (W.1226 H/ 1811 M) dan beberapa makam sultan yag menjabat tahun-tahun belakangan.
Selai komplek makam tersebut terdapat makam makam diluar komplek tersebut yang berada di bukit Formadyahe dianataranya :  Sultan Khairun dabn Sultan Babullah namun makam ini tidak berhias.
2.   Koleksi Istana Kesultanan Ternate
Koleksi istana yang telah menajadi koleksi artefak Museum Kesultanan Ternate yang menjadi tanda eksdistensi kesultanan Ternate, menurut para ahli tahun 1995 stelah di identifikasi pengelompokan koleksi Museum sebagi Berikut : [6]
Kelompok Artefak
Nomor
Jenis Artefak
Ideofak
1
2
3
1
2
3
1
2
3
4
Al – Qur’an
Cis
Tempat berdoa
Bendera atau apanji-panji
Singgasana/ mahkota, dll.
Tongklat kebesaran
Pedang/ tombak/ senapan
Topi militer
Baju besi
Tameng /perisai

Pada museum ini tersimpan berbgai macam peninggalan yang bercirikan Ideofak,  yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah seperti Naskah, Perhiasan, serta Al-qur’an yang ditulis di Maluku.
Perhiasan emas amat menjadi identitas Kesultanan Ternate karena emas menandakan suatu ornament dari kesultanan Ternate. Selai itu Museum menyimpan banayak Naskiah / Maklumat yang dikeluarakan Baik dari dari Kesultanan dan Juga Negeri asing (Belanda), Selain itu terdapt enam Jilid Al-Qur’an yang  di tulis ulama setempat, serta koleksi Senjata buatan local maupun Asing, seperti : Meriam  Sundut yang berukuran Kecil dan sedang beserta pelurunya yang dibuat oleh, Portugis, Inggris dan Belanda.  


3.   Peninggalan Kolonial
Pada masa colonial terdapat banyak peninggalan berupa benteng-benteng yang berada sejak abad-17-20, dianataranya : Portugis, Benteng Sanata Lucia (1502 M), Benteng Santo Paolo (1522 M) dikampung Kastela, Benteng santo Pedro dikampung Laguna, dan Benteng Santo Ana, Benteng Belanda, Fort Oranje (1609M).


[1] Uka Tjandrasasmita. Arkeologi Islam Nusantara, Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia, 2009. Hal.11
[2] -------------------- , Ternate Sebagi Bandar Jalur Sutra, Jakarta, Depdiknas, 1999. Hal. 35

[4] Hasan Muarif Ambary. Menemukan Peradaban” Arkelogi dan Islam di Indonesia”, Jakarta, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 1998. Hal.154


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar