Thursday, 2 November 2017

Andi Jemma Sang Republiken Tana Luwu Part 1

Masa Kecil Andi Jemma

Ketika mendengar pahlawan nasional masyarakat pada umumnya hanya ingat beberapa nama, seperti Jenderal Besar Sudirman atau R. A Kartini. namun jika disebut Andi Jemma mungkin sedikit orang hanya kenal dengan nama gelarnya "Andi" Bangsawan Bugis pastinya.  Ya, pernyataan itu memang benar adanya. Andi Jemma adalah seorang bangsawan Luwu Sulawesi Selatan, tetapi bukan bangsawan biasa. Andi Jemma adalah seorang Raja Kerajaan Luwu yang menjadi pelopor pertemuan raja-raja se-Sulawesi Selatan untuk secara resmi mendukung pendirian Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.

Andi Jemma adalah seorang keturunan bangsawan Tanah Luwu. dilahirkan pada tanggal 15 januari 1901 atau  bertepatan dengan 2 Ramadhan 1318 H.  di  Wara, Palopo. Lahir didalam Istana Pajung Luwu. Kelahiran Andi Jemma merupakan kelahiran yang amat dinantikan oleh seluruh  kalangan masyarakat Kepajuangan/Kedatuan/Kerajaan Luwu.  Bayi ini lahir dikala orang tuanya dari garis keturunan Ibu sedang memegang tapuk pemerintahan yang biasa disebut "anggau". Sebagai datu/Pajung di Luwu yaitu : Sitti Huzaimah Andi Kambo Opu Daeng Ri Sompa, dengan Ayahnya Andi Angka Opu Cenning. keduanya adalah keturunan langsung dari Datu luwu ke XXVIII, Etenri Waru Petta Matinroe Ri Tenggana Luwu. 

Kelahiran Andi Jemma dilukiskan dalam Buku Lahaji Patang yang berjudul Sulawsi dan Pahlawannya dengan menuliskan keadaan masyarakat Luwu saat kelahiran Andi Jemma dengan gegap gempita , para Wanita Luwu mengadakan tarian sakral dengan menggunakan pakaian warna ungu dangan membawa tabuh-tabuhan  yang beraneka ragam. baik dari gemercik Cirica, Calllepa, Appo dan Kenci.  perpaduan suara itu diibaratkan sebagai berada di soralaya  perkampungan para dewa.  hal ini begitu lajim ketika menunggu kelahiran anak pattola atau putra mahkota  dalam tradisi Kerajaan Luwu. 

Perhatian dan perawatan bayi dilakukan begitu sakralnya, selama empat puluh hari bayi harus terus menerus di pangku secara terus meneru siang dan malam secara bergantian oleh seluruh dayang -dayang istana kerajaan Luwu.  yang selam itu juga pihak kerajaan menyiapkan jamuan bagi para tamu yang datang untuk mengucapkan selamat atas kelahiran Andi Jemma seorang Anak Pattola Kepajuangan Luwu (Putra Mahkota Kerajaann Luwu). 

Andi Jemma kecil sudah ditinggalkan sang ayah sejak masih kecil, ayahnya Opu Cenning meninggal beberapa waktu setelah Andi Jemma lahir. sehingga otomatis peran Ibu dalam membesarkannya begitu dominan dalam mentrasfer keilmuan bagi kehidupannya hingga dewasa pada waktunya. Andi Jemma mulai mengenal pendidikan barat Pada tahun 1910. saat beliau mulai disekolahkan di Inlandsche School di  Palopo, pada usia 9 tahun.  

Masa-masa pendidikannya inilah yang membentuk karakter Andi Jemma dewasa. pada tahun 1915. Adi Jemma  menamatkan pendidikan formalnya dengan hasil yang sangat memuaskan. Namun Andi Jemma tidak melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Andi Jemma lebih memilih untuk mendapatkan pengetahuan dari cendik pandai dan tetua adat masyarakat Luwu untuk mendapatkan pelajaran adat istiadat yang terdapat di masayarakat Luwu. 

Saat mengenyam pendidikan inilah, Andi Jemma banyak bertemu dengan masyarakat luas. karena sebelumnya Andi Jemma hanya mendapatkan pendidikan didalam istana dan sekolah formal. interaksi dengan masyarakat yang kelak menjadi rakyatnya begitu sering ia lakukan baik dengan gembala kerbau  hingga rakyat kecil lainnya. 

Pendidikan dari cendik pandai dan tetua adat dengan mengunakan lontara-lontara yang terdapat di dalam kerajaan Luwu. lontara tersebut berisikan  banyak kisah-kisah  kerajaan baik pada masa Mitologi begitu berkembang di Tanah luwu hingga masa kekuasaan neneknya yang berkuasa sebelum Ibunya,  Andi Jemma pun mempelajari pelajaran tentang hubungan-hubungan kerajaan yang tercatat dilontara tetang jalinan  kerajaan Luwu dengan kerajaan-kerajaan sekitar dan juga kebiasaan adat-istiadat masyarakat Luwu.  keadaan tersebut menjadikan dirinya dapat membandingkan dengan apa-apa yang diajarkan oleh sekolah formal sebelumnya dan pendidikan yang dipilih setelahnya.

Sulewatang dan Pernikahan Andi Jemma

Sebagai putra mahkota, Andi Jemma harus mengikuti tradisi yang sudah menjadi kebiasaan di kerajaan Luwu. pada Usia 18 Tahun atau pada tahun 1919 Andi Jemma di berikan tugas sebagai Sulewatang (Jabatan Setingkat Wedana) di wilayah "Ngapa"  salah satu wilayah di Sulawesi Tenggara.  Hal ini merupakan  pengalaman pertama yang didapatkan sebagai calon pemimpin kerajaan Luwu pada nantinya. 

Pada masa inilah Andi Jemma mengakhiri masa remajanya. Andi Jemma menikah dengan misannya yang bernama A. Kasirang, pada pernikahan inilah Andi Jemma mendapatkan seorang putra satu-satunya  yang benama A. Makku Lau Opu Daeng Parreba. Andi Jemma harus menerima kehilangan setelah Istrinya berpulang kerahmataullah sewaktu melahirakan putera pertamanya. Tak lama setelah ditinggal istrinya,  Andi Jemma menikah lagi di tahun 1920 dengan seoarang gadis dari kalangan kebanyakan yang bernama Itang Daeng Pawero.  yang pada  pernikahan ini dikaruniai tiga orang putra  diantaranya: Andi Achmad, Andi Iskandar, dan Andi Nuhung. 

Pada 1923, Andi Jemma dipindah tugaskan untuk menjadi Sulawetang  di Ware, Palopo. dan pada 1 Oktober 1924 Andi Jemma menjabat sebagai Wakil Datu Luwu yang merupakan Ibunya Andi Jemma sendiri, pada masa itu Andi Jemma di beri gelar Cenning Luwu. Jabatan wakil Datu yang di imbannya membuka ruang yang lebih luas untuk menganyomi masyarakat. Sehingga pada kepemimpinannya  Andi Jemma begitu tertarik untuk membela kempentingan rakyatnya.

Saat menjadi Wakil Datu, yang juga merupakan Zelf Bestuur Luwu di bawah naungan  Hindia-Belanda, Andi Jemma mulai menjadi perhatian pemerintah kolonial.  hasrat memperjuangkan kepentingan rakyat luwu yang begitu mendalam dan menyala-nyala dalam jiwanya menjadikan ia begitu membenci penjajahan yang dilakukan oleh Belanda.

Tindakan yang dilakukan Andi Jemma adalah dengan aktif didalam organisasi radikal yang berkembang di Luwu yang bernama PERES. keikut serta Andi Jemma pada organisasi ini adalah ketika ia mulain mengenal salah satu pimpinan dari Organisasi tersebut tyang merupakan seorang sopir dari Sumatera. saat masa jabatannya ia sering kali membayaai organisasi pergerakan ini. sehingga suatu ketika uang pemasukan dari  wilayah Ware tidak bisa disetorkan ke perbendaharaan Hindia-Belanda karena telah habis untuk membiayai kegitan-kegiatan organisasinya tersebut.

Kehati-hatian  Hindia-Belanda pada akhirnya muncul terhadap gerak-gerik Andi Jemma, sehingga ketika peristiwa tidak adanya setoran dari Ware membuat Andi Jemma di Copot dari Jabatanya oleh ibunya atas desakan Contorleur Luwu. Bahkan Andi Jemma diusahakan untuk dikeluarakan dari daerah Luwu.  namun karena timbulnya protes dari masyarakat Luwu pada akhirnya pemerintah Hindia-Belanda  mengurungkan Niatnya tersebut, setelah melihat dan mempertimbangkan ke amanan daerah Luwu masa itu.    




Wednesday, 28 June 2017

Kurcaci dan Harapan

Selamat pagi anak-anak, Seorang Guru TK berteriak semangat, Pandangan mata satu persatu menghitung murid-murid sambil berucap penyemangat membuat murid-murid bersemangat.

Siiiaap, gemuruh murid menjawab dengan semangat, salah satu murid berucap Ibu-ibu apa kabar, kangen aku sama Ibu. Sedikit tersenyum kemudian gurupun menjawab sama, Ibupun kangen sama kamu. Ia Ibu aku kangen liburnya lamaaaa banget aku jadi kangen jawab sianak. kemudian gurupun kembali tersenyum smabil berkaca-kaca mengucap dalam hati sebuah kalimat semangat, engkau dan semua muridlah penyemangat, generasi penerus umat yang harus aku jaga pengetahuannya dengan dengan semangat.

Kemudian Ibubgurupun bersemangat, bertanya kepada semua murid ada lagi tidak yang kangen dengan Ibu, Sayaa... gemuruh semua murid tanpa terkecuali dengan semangat, terdiam haru sangguru merasa heran.. lalu beberapa lams kemudian berpesan mari kita belajar yang giat, agar menjadi cerdas, dapat memimpin diri dan umat, menjadi insan yang bertaqwa.

Begitu lucu dan lugu, tulis guru dalam catatan hariannya. Engkaulah kurcaci kecilku sebuah harapan dan amanah yang dititipkan untukku agar tergapai cita-cita baikmu.

Wednesday, 12 April 2017

FORT NUGENT KEGAGALAN INGGRIS MEMBANGUN BENTENG DI BANGKA-BELITUNG

Peta Pulau Bangka Belitung Google Maps 
 
Membicarakan Pulau Bangka-Belitung pada umumnya masyarakat akan mengenal Laskar Pelangi dan Timah. hal ini menjadi suatu kewajaran karena literatur mengenai sejarah Pulau Bangka-Belitung tidak begitu banyak ditemukan di khalayak masayarakat. Bumingnya film Laskar Pelangi dan pengenalan bangka-Belitung dari Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial-lah yang mengenal masyarakat Indonesia terhadap Bangka Belitung sebagai penghasil timah. Namun ketika mencri informasi kesejarahan Bangka-Belitung hanya dapat ditemui dari catatan-catatan perjanjian kolonial, muhibah bangsa asing dan penilitian yang dilakukan belakangan ini.

Dalam mendalami sejarah eksistensi kolonial Inggris di Nusantara masyarakat Indonesia akan mengenal Thomas Stanford Rafles yang bertugas sebagai Gubernur Jenderal Inggris di wilayah Hindia-Belanda. atas keberhasilannya bersama Lord Minto menjalankan strategi menaklukan Jawa dari kekuasaan Hindia-Belanda. setelah mengerahkan 100 Kapal dan  5 fregat yang diisi lebih dari 10000 pasukan yang dikumpulkan dari wilayah India dan wilayah kekuasan Inggris lain di Asia.

Kedatangan tentara Inggris dengan begitu banyaknya ini merupakan rencana panjang yang begitu matang hingga dilaksanakannya. Momen itupun tiba dengan lancarnya tanpa disengaja akibat kekalahan Belanda atas pasukan Napoleon Bonaparte dari Prancis yang berhasil menguasai Belanda dari sisi selatan negeri induk Hindia-Belanda itu. Pasukan Napoleon berhasil masuk dan menguasai belanda sebelum terlebih dahulu menguasai Belgia di perbatasan Belanda.

Kekuasaan Prancis atas Belanda berdampak juga pada struktur negeri-negeri jajahan belanda di seluruh dunia termasuk Hindia-Belanda yang pada  kesempatannya prancis memelui Gubernur Jenderalnya di Hindia-belanda berhasil membuat jalur pos Anyer Panarukan Secara kronologis, pada tahun 1808 datanglah Herman Willem Daendels dari Belanda ke Banten, waktu ia datang ke Indonesia negaranya tengah di jajah oleh Perancis. Sebagai murid yang disayangi Napoleon, akhirnya Daendels dikirim ke Indonesia untuk menggantikan Gubernur Jendral dari Belanda yang ada di Indonesia oleh Napoleon Bonaparte (Dr. H.J. de Graaf; 363-370, 1949). 

Di tengah lemahnya kekuatan Belanda di Hindia-Belanda, juga ketidak stabilan suksesi kekuasaan atas berdirinya Republik Bataf yang berdiri menggantikan Dinasti van Oranje menambah lemah kekauatan dan pengaruh kekuasaan Belanda itu sendiri. pada akhirnya kerajaan-kerajaan yang awalnya telah ada dibawah pengaruh VOC berada dibawah pengaruh Hindia-Belanda .

Kekuasaan Inggris yang menjadi pesaing utama Prancis di Eropa berdampak pula bagi  wilayah pengaruhnya diluar eropa. melihat kekelahan Belanda dan berganti menjadi Republik Bataav(Belanda dibawah Pengaruh Prancis), Inggris yang meliki kekuatan mulai membangun pengaruhnya di Hindia Timur. Rencana penyerangan terhadap Jawa sebagai pusat kekuatan Belanda di Hindia Timur menjadi target utama. skema serangan Inggris begitu sempurna hingga akhirnya berhasil menaruh pengaruh Inggris pada 18 September 1811 dan menggantikan pengaruh Prancis Melalui Belanda di Hindia-Belanda. 

Melihat Suksesi kekuasaan yang ada,  memicu perubahan sikap raja-raja nusantara untuk menolak perjanjian yang sudah dibuat Belanda dengan  Kerajaan-kerajaan yang sudah ada untuk dilanjutkan sebagai perjanjian Inggris dengan Raja-raja nusantara. Penolakan itu terjadi antara laian di Kesultanan Palembang masa Sultan Mahmud Badarudin II, Kesultanan Bone masa pemerintahan Aru Palaka dan Kesultanan Yogayakarta, saat masa peerintahan Hamengkubuono ke-II

Kesultannan Palembang  pada masa Mahmud Badarudin II menolak keras keberlansungan perjajian kerajaan yang sudah terjalin dengan pemerintah Belanda.  penolakan tersebut dilakukan dengan menyerang dan menghancurkan  Loji Belanda  serta membunuh orang-orangnya. kejadian ini membuat Inggris yang sedang memaksa Kesultanan palembang untuk tunduk pada pemerintahan baru Batavia marah. Sehingga pada kesempatan itu Raflles sebagai Letnan Gunernur Inggirs yang berkuasa di batavia Mengirim Kolonel Robert Rollo Gillespei pada 15 April 1812  untuk menghukum Mahmud Badaruddin II dengan menggantikannya dengan Adiknya Najamudin pada 19 April 1812.  sebelum naik tahtanya Najamudin terjadi pertempuran sengit anatar Mahmud Badarudin II dengan Inggris hingga akhirnya ia harus meninggalakan Palembang dan merelakan Tahtanya ketangan Adiknya.  

Terdapat kontrak dalam suksesi kepemimpinan kesultan Palembang saat itu. dimana Najamudin harus menyerahkan Pulau Bangka dan Belitung ketangan Inggris dan pengganti atas diserahkannya kedua pulau tersebut adalah akan diberikannya santunan tahunan sebagai penggantinya. kontrak perjanjian itu ditanda tangani pada 17 Mei 1812 anata Sultan Najamudin dengan Kolonel Gillespie. 

Meski demikian, Mamud Badarudin II yang merupakan sultan berpengaruh tidak tingga diam melihat keadaan yang begitu tidak menguntungkan baginya dan juga rakyatnya. sehingga pada akhirnya dia melakukan penyerangan kembali ke Palembang. 

Tukar Guling pulau Bangka-Belitung merupakan muslihat yang begitu baik diterapkan Inggris. melihat begitu pentingnya kepualaun Bangka-Belitung bagi Sumberdaya Alam Timah sebagai pemasok amunisi kekuatan militer Inggris juga  jalur pelayaran dagang dan militer Inggrisnya di Nusantara. tidak lama setelah permintaan kekuasaan atas pualau tersebut kolonel Gillespie menginginkan agar dibangunnya Benteng di pulau tersebut. sebagai upaya mengamankan kedudukan Inggris dilaut Cina Selatan hingga Malaka.  

Kepualauan Bangka menjadi titik yang begitu startegis bagi Inggris saat itu berada pebatasan laut jawa dengan selat malaka dan laut cina selatan juga sebagai daerah kontrol wilayah pendudukannnya di bengkulu yang niatnya akan digabungkan dengan wilayah residen palembang dan bangka belitung disamping itu juga sebagai daerah kntrol rempah-rempah dari Jawa Barat. Perlunya sebuah benteng yang kokoh yang kan dijadikan sebagai pemantau alur laut di pelabuhan Muntok.  dan juga wilayah kekuasaan Inggris disekitarnya meliputi Bengkulu-Sumatera selatan dan Bangka-Belitung. 

Pembangunan Benteng pun dilakukan oleh Inggris di Bangka. dengan menamakannya sebagai Fort Nugent sebagai penghargaan terhadap seorang jenderal yang ditugaskan di India Jenderal Sir George Nugent. dibawah arsitek kapten Zeni Thomas Clodes. 

Kegigihan Mahmud Badarudin II dan para pemikutnya yang setia di Bangka  selalu menjadi Ancaman bagi kekusaan Inggris di Bangka. sehingga pada akhirnya terjadi serangan pada pasokan bahan bangunan dan logistik makanan  ke bangka dari palembang. pada tanggal 28 Agustus 1812 di buaya langu. namun perlawanan ini dapat dipatahkan dan membuat pasukan loyalis Badarudin II melalrikan diri. meski pasukan Badarudin II melarikan diri namun serangan itu berhasil menewaskan Kapten Meares (seorang kapten yang dipertanggung jawabkan Rafles untuk mengawasi pembangunan Fort Nugent juga diangkat sebagai Residen Inggris ditugaskan mengejar Sultan Mahmud Badaruddin II dan terjadi pertempuran di Bailangu dengan kekalahan pihak Inggris, Meares tertembak dan akhirnya meninggal. Untuk mempertahankan posisinya Sultan mendirikan kubu-kubu pertahanan di Muara Rawas dan daerah-daerah pedalaman dengan demikian Sultan tidak dapat ditaklukkan.

Perisiwa ini membuat Konsntrasi Inggris di Hindia-Belanda terpecah dan tidak bisa menanganinya karena ada tiga wilayah yang sedang begejolak seperti Yogyakarta dan Bone di Sulawesi Selatan yang mebolak kekuasaan inggris. ditambah dalam proses pembangnan Fort Nugent mengalami kendala baik secara struktur bangunan yang ditempatkan dilokasi yang kurang tepat, ditambah adanya wabah penyakit yang menyerang para pekerja Inggris di Fort Nugent.  Sehingga sampai sebelum diselesaikannya Pembangunan Benteng Fort Nugent. Napoleon Bonaparte dapat dikalahkan dalam pertempuran di Leipzig dan kemudian tertangkap, maka pada tahun 1814 melalui Konvensi London (Perjanjian London), Inggris mengembalikan semua daerah kekuasa-an Belanda yang pernah dikuasai oleh Inggris. Akan tetapi Raffles tidak setuju terhadap keputusan-keputusan itu. la meletakan jabatannya dan digantikan oleh Letnan Gubernur Jenderal John Fendall. Pada tahun 1816 John Fendal menyerahkan wilayah jajahan di Indonesia kepada Belanda.


Source :
- Sejarah Benteng Inggris Di Indonesia, Direktorat Geografi Sejarah, Kementerian 
  Kebudayaan dan Pariwisata, 2010 

- Peta Pulau Bangka Belitung: Google Maps 

Sunday, 22 January 2017

Hapus

Dua tahun lalu sejak saat itu
Aku tetap masih menjadi orang bodoh yang mengharapkanmu
Meski tak mungkin namun kisah lalu masih membuatku enggan menutup mata karena ketakutanku akan mimpi mimpi indahku
Mimpi indah saat aku berani untuk bermimpi lebih jauh
Mengharap bersatu dalam akad janji yang tak lekang waktu
Menerimamu dalam kalbu, gerak, ucap dan tanggungjawabku
Lama sudahnya waktu
Menghapus goretan pena diatas kertas tak mungkinlah berlaku
Tetesan tinta tidaklah hilang termakan waktu
Telah keras menempel didalam sanubariku
Mencoba berlari namun rasanya hanya mengitari waktu
Selalu aku kembali memikirkanmu
Hapus-hapus-hapus
Hanya menghapus kisah lalu yang aku harap tiap waktu
Tak mengingatmu dalam tiap kali aku menutup mataku

Monday, 26 September 2016

AKHIR MASA KESULTANAN JAMBI

Keberhasilan Sultan Agung Sri Ingalogo mengusir Belanda melalui Verenigde Ooost Indische Compagnie nya (VOC) ditahun 1742, mengukuhkan Kesultanan Jambi sebagai kesultanan merdeka yang bebas mengatur tata kelola pemerintahannya dengan bebas. Kekusaan VOC yang hanya mewariskan wilayah Palembang diwilayah sumatera ke pemerintahan baru setelah kebangkrutannya di tahun 1799. Palembang dengan sisa kekuatannya masih melakukan perlawanan hingga tahun 1825. 
Dimasa-masa perlawanan Kesultanan Palembang terhadap kekuasaan  Netherlansche-Indische (Hindia Belanda) sebelum kejatuhannya. Kesultanan Palembang membentuk jaringan-jaringan kepada negara tetangganya,  Salah satunya adalah melakukan hubungan dengan  Raden Denting/Sultan Mahmud Muhidin/Sultan Agung Sri Ingalogo ditahun 1813-1833 untuk membantu Palembang melawan kekuasaan Hindia-Belanda di Kesultanan Palembang. 
Masa peralihan kekuasaan yang terjadi ditahun 1833 saat Sultan Agung Sri Ingalongo digantikan oleh Sultan Muhammad Facruddin. Sultan Muhammad Facrudin (Sultan Keramat) Masih melanjutkan perjuangan Sultan sebelumnya yang tidak bersikap akomodatif pada Belanda. Hal ini dibuktikan dengan dukungan sultan terhadap para bangsawan Palembang yang menentang kebijakan pemerintahan Belanda di Palembang.
Perbantuan yang dilakukan sultan terhadap perlawanan bangsawan Palembang menyebabkan Hindia-Belanda geram, dan akhirnya pemerintah Hindia-Belanda mengirimkan Letnan Kolonel Micheil Untuk memblokade sungai dan daerah Serolangun dan mendesak pasukan Sultan Keramat hingga daerah Sungai Baung dan Dusun Tembesi.  terdesaknya pasukan Sultan Keramat menyebabkan Sultan terpaksa menandatangi perjajian  yang isinya menyatakan bahwa Jambi dibawah kekuasaan Belanda pada 14 Nopember 1833 dan perjanjian tambahan yang ditanda tangani 15 Desember 1833.
Lima Belas tahun dikuasai Belanda, pada masa pemerintahan Sultan Taha Syarifuddin, Kesultanan Jambi mulai melakukan Pemberontakan dengan tidak mengakui kekuasaan Belanda atas Jambi. sehingga pada tahun 1858 Sultan Taha dipaksa meletakan Jabatan setelah Belanda menguasai Keranton Jambi di bawah Pimpinan Mayor Van Legen. 
Didudukinya Keranton Jambi, Memaksa Sultan Taha Syarifuddin keluar keraton dan mengatur pemerintahannya di daerah Uluan. Meski demikian Sultan Taha dimakzulkan oleh Pemerintah Belanda dan mengankat Raden Ahmad  dengan Gelar Sultan Ahmad Nazzarudin menjadi Sultan Jambi pada 2 Nopember 1858, Tetapi kekusaan Sultan Ahmad Nazzarudin tidak diakui rakyat, dan lebih meyakini Sultan Taha sebagai sultan yang sah karena pengangkatannya yang sah dan masih memegang keris pusaka Kesultanan Jambi Keris Siginjai. Kesultanan Jambi mulai mengalami kemunduran dibawah Sultan Ahmad Nazzarudin, Sultan dipaksa menanda tangani perjanjian  Desember 1858. dan kemudian dilanjutkan perjajian cukai dan hak monopoli Belanda  pada 13 Juli 1880. pada masa selanjutnya Belanda mengadakan perjanjian saat kesultannan Jambi dibawah Sultan Muhammad Mahliludin1881-1885, pada 22 Mei 1882. yang isinya mengenai kuasa Belanda terhadap penguasaan Jambi, dari mulai pengaturan  penduduk dan juga masalah sumberdaya mineral. 
Sultan Mahliludin yang mangkat pada10 April 1855 digantikan Sultan Ahmad Zainuddin, yang pada masa pemerintahannya mengangkat Putra Ketiga Sultan Muhammad Taha yang masih berusia 4 tahun  sebagai Pangeran Anom Kusumayudha pada Juli 1855. Pengangkatan Pangeran Anom ini menandakan perdamaian antara Bangsawan di Kesultanan Jambi yang dahulunya pernah berpisah akibat interpensi Belanda, dengan sikap ini pada akhirnya keris pusaka yang dipengang Sultan Taha diberikan kepada Sultan Ahmad Zainuddin yang pada akhirnya Kesultanan Jambi tidak lagi memiliki pemerintahan yang terpecah antara pemerintahan Uluan dan Kesultanan Jambi ciptaan Belanda. 
Dengan Kekuasaan yang absolut, Belanda memaksa Sultan Ahmad Zainudin untuk menanda tangani perjanjian pada tanggal 28 Mei 1888, yang mengakibatkan konflik ditengah bangsawan Jambi. Pangeran Marta Jayakusumah, Pangeran Natamenggala yang masing-masing memiliki tangung jawab diputar balikkan tanggungjawabnya. Pada 1 Nopember 1890 di Uluan terjadi pemberotakan terhadap Belanda oleh Pangeran Diponogoro dan Pangeran Husin dengan meminta Cukai terhadap barang dagangan yang dahulunya berdasarkan perjanjian dikausai Belanda. 
Pemungutan Cukai ini merembet pada perlawanan dibawah pimpinan Sultan Muhammad Taha yang masih memiliki pengaruh ditengah masyarakat Hingga pada tahun 1891 terbunuhlah Kontrolir Belanda yang  bernama Van Laar dan pada tahun 1895 Pimpinan Militer Belanda di Jambi juga ikut terbunuh.
Dengan terbunuhnya pimpinan Belanda di Jambi, Belanda melakukan tekanan terhadap Sultan Ahmad Zainudin, sehingga akhirnya Sultan Ahmad Zainuddin memakzulkan diri pada Desember 1899 dan mendapat bantuan sebesar Rp. 4000 dari Belanda. ditengah kekosongan pemerintahan dan konflik yang berkepanjangan antar bangsawan Jambi untuk menentukan siapa penganti Sultan Ahmad Zainudin. Pada akhirnya Kesultanan Jambi diserahkan kuasanya kepada Hindia-Belanda pada 27 Februari 1901. Penyerahan ini diterima oleh Residen Palembang I.A. Van Rynvan Alkemade yang menandakan berakhirnya Kesultanan Jambi. 

Source : 
Sejarah Sosial Jambi : Jambi Sebagai Kota Dagang,  Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumntasi Sejarah Nasional Jakarta, 1984. 

KESULTANAN JAMBI MASA GENGGAMAN VOC

Sungai Batang Hari merupakan sungai yang terkenal diwilayah Jambi, sungai ini merupakan sungai yang bermuara di selat Pulau Berhala yang berbatasan dengan Selat Malaka. Selat Malaka merupakan selat yang sejak dahulu merupaka selat yang ramai dikunjungi oleh para pelaut dan saudagar yang menghubungkan daerah timur seperti Cina dan Wilayah Barat seperti, India, Timur Tengah, Afrika dan juga Eropa.
Hal ini telah dicatat oleh seorang Pendeta Budha yang terkenal dengan catatan perjalanannya I-tsing. yang mana catatan perjalanannya menceritakan bagaimana bandar-bandar di selat malaka begitu ramai dengan para pelaut dan saudagar yang berdatangan dari wilayah India, Arab dan Cina. Salah satu pelabuhan yang ramai adalah pelabuhan Melayu Jambi yang terletak di aliran sungai Batang hari yang bermuara di selat pulau berhala dan selat malaka. disepanjang selat malaka tumbuh kota-kota yang kaya, Pelabuhan melayu Jambi menjadi titik destinasi pelabuhan transito yang ramai bagi para pelaut dan saudagar yang menunggu datangnya musim angin baik ketimur maupun kebarat, pelabuhan melayu Jambi menjadi pelabuhan yang memegang kunci pelayaran dimasanya.
Pada masanya kemampuan pelaut Melayu begitu terkenal hal ini yang menyebabkan bangsa melayu bertemu dengan berbagai macam pedabadan yang mendukung suatu transformasi kultural dari yang bersifat kesukuan mengarah pada suatu formasi kekuasaan yang terbentuk dalam suabuah kerajaan, hal ini juga terbentuk diwilayah Jambo, khususnya kerajaan islam yang terbentuk dalam kesultanan Jambi.
Secara historis Jambi memulai era kesultanan sejak tahun 1500-1515, yang ditandai dengan masuknya raja kerajaan Jambi keagama Islam pada masa pemerintahan orang Kayo Hitam, yang merubuah struktur kerajaan  dan memberi maklumat agar penduduk Jambi juga memeluk agama Islam. Perubahan penyebutan raja dari "Panembahan" menjadi "Sultan".
Pemerintahan diatur dalam Undang-undang yang dibernama "Pucuk Undang nan Delapan". dimana dalam undang-undang tersebut memadukan antara adat dan syariat islam dalam peengaturan ketatanegaraan. hal ini tercermin dalam suatu pepatah yang terkenal ditengah masyarakat Jambi. dimana disebutkan dalam bahasa lokal : Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah. dengan demikian dapat diartikan begitu kentalnya hubungan antara adat dan syariat islam. pada masa-masa inilah muncul kekuatan ulama sebagai pemangku kehidupan beragama.
Pertemuan dengan Belanda terjadi di tahun 1615, setelah Jambi secara resmi  melaui maklumat Sultan Kedak (Sultan Abdul Kahar 1915-1943) yang mendeklarasikan wilayahnya sebagai satu kesatuan yang berbentuk kesultanan. Rombongan Belanda pertama kali datang ke Kesultanan Jambi dipimpin oleh Abraham Strek dengan membawa dua kapal Belanda yang bernama Wapen Amsterdam dan Middelburg. Abraham Strek kemudian meminta izin untuk mendirikan kantor dagang pada tahun yang sama, satu tahun setelah pertemuannya barulah ia mendirikan kantor dagang, dan kemudian berdasarkan izin yang diperoleh perwakilan Belanda mendapatkan izin untuk mendirikan kantor dagang VOC diwilayah Muara Kumpeh. 
Dikarenakan sulitnya mendapat kayu dan lada dari masyarakat, kemudian VOC menutup kantor daganganya ditahun 1625 dan kemudian membukanya kembali ditahun 1936. pembukaan ini tidaklah tanpa penyebab. Dengan sikapnya yang ingin menguasai Jambi, Belanda ingin mengambil kesempatan dengan memanfaatkan perselisihan antara kesultanan Jambi dengan Kesultanan Johor.  pada fase kedua ini kntor dagang VOC di Jambi dipimpin oleh Hendrik van Gont, yang pada tahun 1642, melancarkan kegaiatan politik adu domba dengan mynatakan bahwa Sultan Jambi melakukan hubungan terhadap Sultan Agung dari Mataram. Oleh karena Sultan agung adalah musuh VOC maka VOC akan mengangkat senjata terhadap Kesultanan Jambi masa itu kantor dagang Belanda di Jambi dipimpin oleh Antonie van Diemen. 
Dimasa pemerintahan Sultan Agung (Sultan Abdul Jalil) terpaksa melakukan kerjasama dengan Belanda dibawah pimpinan Anries Dogart Ploeg dtahun 1943. Pada masa selanjutnya ditengah perselisihan antara Jambi-Johor, Jambi membutuhkan bantuan, terjalinlah kerjasama antara Kesultanan Jambi dengan Belanda melaui VOC. kerjasama ini tidak hanya dibidang perdagangan tetapi juga terjalin dalam bidang pemerintahan, hal ini yang menyebabakan turut campurnya VOC dalam pemerintahan kesultanan Jambi. Pecahnya perang antara Jambi-Johor terjadi ditahun 1667, Jambi mengalami kemenangan atas bantuan VOC. maka dari itu VOC melalui konsul dagangnya yang dipimpin oleh Sybrand Swart, meminta imbalan atas bantuan yang telah diberikan tersebut. 
Namun Sultan Jambi yang saat itu dipimpin oleh Sultan Abdul Mahji yang terkenal dengan Sultan Sri Ingalogo (1665-1690) melakukan penolakan dan menyerang kantor dagang Belanda dan berhasil membunuh Sybrand Swart, ketidak puasan Belanda ini berujung pada penangkapan sultan pada tahun 1690 dan sultan di buang ke Batavia. Seharusnya pengganti Sultan Ingalogo, adalah putra mahkotanya yaitu Raden Tyulip (Raden Julat). Namun dengan politiknya Belanda mengangkat Raden Dipati Cakra Negara Menjadi sultan dengan sebutan Kiai Gedeh. hal ini menyebabakan Raden Tyulip dan Kiai Singa Patih keluar dari Kerajaan dan melakukan hubungan dengan kerajaan Pagar Uyung. bantuan pagur uyung pada akhirnya berhasil membatu Raden Tyulip mendirikan pemerintahan dipengasingan, Raden Singa Tyulip  mendirikan pemerintahan di Mangunjayo dengan gelar Sunan Sri Maharaja Batu dan juga biasa disebut Sunan Suto Ingalogo. dan Saudaranya Kiai Singa Patih mendirikan pemerintahannya di Bukit Serpeh. dengan Gelar Sunan Abdurrahman.
Pada tahun 1740, terjadi perdamaian antara Sultan Sunan Suto Ingalogo dengan Kiai Gedeh namun pada kenyataannnya perdamaian yang diharapkan dan mengembalikan sultan Suto Ingalogo menjadi Sultan Jambi yang Sah malah membawa sultan Suto Ingalogo di tangkap belanda dan diasingkan ke Batavia. Kiai Gedeh, yang digantikan oleh Sunan Suto Ingalogo kembali memimpin Jambi hingga tahun 1740. dan digantikan Sultan Sri Ingalogo sebagai pewaris tahta dari Sunan Suto Ingalogo, Dua tahun dibawah kepemimpinannya Sri Ingalogo berhasil menutup kantor dagang VOC di Jambi. Kesultanan Jambi terus berkuasa sebagai kesultanan yang merdeka dan turut membantu Kesultanan Palembang dalam melawan Belanda. Hingga memasuki pertengah Abad ke-19 malapetaka itupun datang dan berhasil menjatuhkan pemerintahan Kesultanan Jambi dibawah kekuasaan Belanda.

Source :
Sejarah Sosial Jambi : Jambi Sebagai Kota Dagang,  Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumntasi Sejarah Nasional Jakarta, 1984.